PERLINDUNGAN GURU PJOK SEBAGAI GURU YANG AKTIF DI SEGALA LINI EDUKASI

Table of Contents
PERLINDUNGAN GURU PJOK SEBAGAI GURU YANG AKTIF DI SEGALA LINI EDUKASI ~ Menjadi Guru PJOK memang harus siap dengan tantangan-tantangan serta tugas tambahan yang secara tidak langsung akan melekat pada diri seorang guru. Contoh nyata yang sekaligus penulis alami yaitu selain sebagai pendidik pada materi PJOK, penulis juga mendapatkan tugas tambahan lain seperti pramuka, UKS, dan yang paling dominan yaitu kegiatan ekstrakurikuler Olahraga. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut tentunya merupakan suatu bentuk formal yang mana mewadahi peserta didik untuk mengembangkan potensi dan bakatnya. Salah satu target dalam pembinaan ekstrakurikuler khususnya Olahraga di jenjang sekolah dasar adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan kebudayaan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat yaitu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Kegiatan tersebut dari tahun ke tahun senantiasa dilaksanakan seperti yang terjadi pada lingkup Kabupaten Nagekeo. Kegiatan Seleksi O2SN tersebut tentunya memberdayakan Guru khususnya para guru PJOK.
Dokumentasi kegiatan O2SN

Pelaksanaan kegiatan Seleksi O2SN di Kabupaten Nagekeo sangat membutuhkan partisipasi pro aktif dari para guru PJOK setempat yang mana dilaksanakan secara bertingkat mulai dari tingkat gugus, kecamatan, hingga tingkat Nasional. Pada ajang Seleksi O2SN ini bisa di ibaratkan sebagai ajang pengembangan bakat peserta didik yang didampingi oleh guru-gurunya sekaligus sebagai penyelenggara pertandingan. Cabang olahraga yang dipertandingkan antara lain : Sepakbola, bolavoli, atletik bulutangkis, tenis meja, atletik, sepak takraw, catur, dan pencak silat. 

Kasus nyata dialami oleh penulis selaku guru PJOK yang mana mendapatkan tugas sebagai koordinator pertandingan bolavoli pada seleksi O2SN di Kabupaten Nagekeo. Sebagai seorang guru tentunya ini merupakan sebuah kepercayaan yang perlu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Disamping itu perlu diketahu pula bahwa cabang olahraga bolavoli ini merupakan salah satu cabang populer di kabupaten Nagekeo. Dimana ada sebuah pertandingan bolavoli, bisa dipastikan penonton akan membludak.

Perhelatan berlangsung secara lancar pada awalnya. Namun, ketika memasuki babak semi final yang mempertandingkan antara Gugus 1 Aesesa melawan gugus 5 Aesesa terjadi perselisihan antara salah satu oknum pendukung dengan tim guru yang sedang memimpin pertandingan. Hingga akhinya pertandingan dihentikan karena tidak memungkinkan yang mana para msyarakat sudah mulai masuk dalam arena pertandingan seolah-olah ikut mengadili sebuah persilihan yang terjadi. 

Sebagai koordinator pada pertandingan tersebut, penulis berusaha secepat mungkin untuk mengamankan tim (guru yang bertugas dalam anggota pelaksana pertandingan bolavoli mini) dengan berusaha melerai perselisihan dengan cara memberikan pemahaman kepada penonton dan pendukung (masyarakat yang hadir) terkait kasus yang sebenarnya terjadi. Namun suasana sudah memanas hingga diri sendiri (penulis) pun hampir saja menjadi korban tindak kekerasan oleh salah satu oknum kubu perselisihan tersebut.

Kondisi yang ramai tersebut semakin mengundang masyarakat diluar pertandingan bolavoli tersebut untuk turut mendekat dan menjawab rasa penasaran mereka. Suasana semakin menegangkan. Bahkan lapangan utama terisi penuh dengan masyarakat didalamnya. Kericuhan dengan berbagai tindakan arogan serta adu mulut yang semakin memanas tak kunjung reda. Selaku koordinator pertandingan bolavoli disini penulis semakin panik terutama terkait keselamatan diri sendiri serta para tim guru yang bertugas saat pertandingan tersebut. 

Kondisi tersebut berhasil mereda tatkala datang pihak yang berwenang untuk mengatasi masalah tersebut yaitu para tokoh masyarakat, pimpinan lembaga (kepala sekolah) serta Babinsa dan Babinkabtibmas setempat. Pihak aparat langsung berusaha menuju ke pusat keributan untuk berupaya melerai sekaligus mengamankan guru-guru yang bertugas. Beberapa selang waktu kemudian keributan sudah mulai mereda dan beberapa pihak terkait seperti penulis (selaku koordinator bolavoli), guru yang bertugas memimpin pertandingan (wasit), masyarakat yang terlibat keributan, serta para saksi yang dianggap bisa melengkapi kronologi tersebut akhirnya diamankan serta dipertemukan dalam sebuah ruangan untuk cek dan ricek kronologi permasalahan yang terjadi. Di sini penulis sangat bersyukur karena sudah berada pada kondisi yang aman setelah beberapa pihak terkait melaksanakan tindakan dan perlindungan.

“Percikan api tak sengaja yang membuat lapangan membara”. Itulah analogi yang pas terkait dengan insiden tersebut. Berawal dari miskomunikasi antara salah satu oknum penonton dengan guru yang bertugas sebagai wasit saat pertandingan. Pada saat itu masuk set ketiga atau set penentuan dengan skor 8-5 untuk keunggulan tim gugus 1. Namun penonton mengira bahwa kondisi tersebut kemudian terjadi pertukaran lokasi tim. Dengan suara penonton yang seolah-olah menyetir permainan tersebut kemudian wasit menegurnya. Dibalas lagi dengan kata-kata dari pendukung tersebut kepada wasit yang kemudian terjadi kata-kata yang menurut mereka menyinggung perasaan hingga akhirnya keributan tak terbendung. 

Setelah dilakukan rekonsiliasi dari beberapa pihak yang terlibat dengan difasilitasi oleh aparat (Babinsa, babinkabtibmas, serta Tokoh masyarakat) akhirnya kedua pihak berhasil damai dan saling menyadari kesalahannya. Akhirnya pertandingan bisa dilanjutkan kembai dengan suasana yang lebih kondusif.

Penulis selaku guru sekaligus koordinator perhelatan olahraga tersebut mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas perlindungan yang diberikan oleh pihak berwenang mulai dari Babinsa, Babinkabtibmas, Para kepala sekolah hingga para tokoh masyarakat. Tanpa perlindungan tersebut penulis sebagai guru yang mendapatkan tugas sebagai Koordinator pertandingan dalam ajang Seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional tak akan bisa berlangsung dengan tuntas.

Penulis : Ali Zaenal, S.Pd.,Gr (Guru PJOK SD Inpres Rata) – sebuah kisah nyata penulis pada bulan Mei 2018 terkait dengan perlindungan Guru ketika mendapatkan tugas tambahan yaitu menyelenggarakan seleksi O2SN.

Post a Comment