PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI AKTIVITAS BERMAIN DALAM PENDIDIKAN JASMANI (Best Practice)

Table of Contents
PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI AKTIVITAS BERMAIN DALAM PENDIDIKAN JASMANI


Rudi Hardi
              SD Negeri 82 Rejang Lebong Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu
              email: rudihardi.olahraga@gmail.com


Abstrak

            Karakter anak merupakan hasil dari suatu pendidikan secara umum baik informal yang berlangsung di keluarga dengan bentuk pembiasaan hal-hal yang baik, etika, dan budaya, pendidikan nonformal yang berlangsung di masyarakat dengan bentuk pelatihan-pelatihan, kursus, kerja social, maupun pendidikan formal yang berlangsung di sekolah-sekolah. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan formal yang berlangsung di sekolah-sekolah dari pendidikan dasar sampai dengan menengah. Pendidikan jasmani diartikan pendidikan melalui aktivitas jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. Aktivitas jasmani dapat berupa olahraga atau non-olahraga diantaranya bermain. Melalui aktivitas bermain akan meragsang potensi-potensi yang dimiliki anak untuk berkembang ke arah yang lebih baik terutama yang dikemas dalam pendidikan jasmani. Melalui aktivitas bermain yang dikelola secara baik akan memacu perkembangan fisik, sosial, dan psikis anak, sehingga aktivitas bermain bagi anak mempunyai fungsi untuk mengembangkan aspek fisik, sosial, dan psikis secara proposional. Aktivitas bermain oleh anak dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja sehingga pengembangan potensi anak akan berlangsung bersamaan dengan aktivitas bermain tersebut. Keadaan semacam ini dapat dikatakan bahwa bermain merupakan pendidikan praktis. Hal ini berlangsung terus menerus dalam kurun waktu yang relatif lama sehingga terbentuk suatu tingkah laku yang menetap dan diakui oleh orang lain sebagai karakter pribadi seseorang.

Kata kunci: karakter, bermain, dan pendidikan jasmani


PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mempengaruhi peserta didik agar mampu  mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi- potensi yang dimiliki agar mampu menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Potensi yang ada dalam diri setiap peserta didik ada yang bersifat positif maupun negative. Potensi mana yang akan berkembang tergantung dari stimulus atau lingkungan yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu diciptakanlah suatu lingkungan yang memungkinkan untuk menstimulus potensi-potensi positif yang dimiliki peserta didik agar dapat berkembang dan teraktualisasi dalam tingkah laku yang positif, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
dalam bentuk pendidikan. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untk kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat , bangsa dan negara.
Pendidikan jasmani merupakan salah satu usaha sadar untuk menciptakan lingkungan yang mampu mempengaruhi potensi peserta didik agar berkembang ke arah tingkah laku yang positif melalui aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani inilah bentuk rangsangan yang diciptakan untuk mempengaruhi potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah mulai dari jenjang pendidikan usia dini sampai pendidikan menengah. Melalui aktivitas jasmani ini diharapkan tujuan pendidikan yang meliputi ranah kognitif, afektif, fisik, dan psikomotorik dapat terwujud. Bentuk aktivitas jasmani  yang disajikan dalam  pembelajaran pendidikan jasmani dapat berbentuk olahraga maupun non olahraga. Olahraga   seperti atletik, senam, permainan, beladiri, dan akuatik, sedang non olahraga dalam bentuk bermain, modifikasi cabang olahraga, dan aktivitas jasmani lainnya. Secara lengkap ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di sekolah (BSNP. 2006:177) meliputi: permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas, dan kesehatan. Bermain merupakan bagian dari ruang lingkup pendidikan jasmani yang dapat digunakan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Bermain mampu membawa anak ke arah perubahan yang positif baik dalam aspek fisik, psikis, maupun sosial. Fungsi bermain dalam pendidikan jasmani adalah mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik secara nyata yaitu terwujudnya peserta didik yang berkarakter, hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan secara umum dapat tercapai.

 METODE
                Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas 5 SD Negeri 82 Rejang Lebong, Bengkulu dengan pertimbangan karena peneliti mengajar di kelas tersebut, sehinggah bisa mengitegrasikan PPK dalam proses pembelajaran. Sedangkan penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif.
            Adapun teknik pengumpulan data menyesuaikan dengan kebutuhan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini data yang dibutuhkan diambil adalah aktivitas peserta didik yang didapatkan melalui observasi. Selain itu, untuk mengukur hasil belajar di dapatkan melalui tugas kelompok bermain dan mandiri yang telah di lakukan siswa.
            Pemahaman siswa tentang pendidikan karakter bisa didapatkan dari aktivitas bermain siswa. Aspek aktivitas bermain dinilai selain berdasarkan karakter yang didapat, juga kesesuaian dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas, kejujuran dan tanggung jawab. Disamping itu, jika 75% siswa mampu mencapai KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ), maka pembelajaran dianggap berhasil.

PEMBAHASAN
1. Penguatan Pendidikan Karakter
                Pendidikan berkarakter telah dicanangkan sejak tahun 2010 sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan yang timbul di dunia pendidikan, khususnya terkait dengan masalah peserta didik. Program ini trus dilanjutkan hingga saat ini. Bahkan, pada 6 september 2017, presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang penguatan karakter.
            Melanjutkan kebijakan sebelumnya, dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017 ini kembali menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter adalah bagian Gerakan Nasional Revolusi Mental ( GNRM ).
            Gerakan ini diantaranya bertujuan untuk mewujudkan bangsa yang berbudaya dengan penguatan nilai religius, jujur, kreatif, disiplin, cinta tanah air.
            Adapun tujuan PPK ini antara lain membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa pancasila dan pendidikan karakter yang baik, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan dan melibatkan publik, serta merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga.
2. Hakikat Karakter
Karakater merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai kecenderungan kearah positif maupun negatif. Dalam pendidikan tentu saja karakter positif yang ingin ditanamkan dalam diri para peserta didik. Peserta didik yang berkarakter inilah yang selalu diharapakan oleh semua pihak. Menurut pandangan Suharjana dalam Darmiyati Zuchdi (2011:28) yang dimaksud karakter adalah sebuah cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menjadi ciri khas seseorang yang menjadi kebiasaan yang ditampilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedang Suyata dalam Darmiyati Zuchdi (2011:15) menyatakan bahwa karakter diartikan sebagai tersusun atas ciri-ciri yang akan memandu seseorang melakukan hal-hal yang benar atau tidak mengerjakan hal-hal yang tidak benar. Sedang orang yang memiliki karakter baik menurut Effendie Tanumiharja dalam Darmiyati Zuchdi (2011:507) adalah orang yang mampu mengendalikan diri, memiliki antusiasme, fleksibel, rasa humor, memiliki integritas tinggi, selalu merasa bersyukur, berhati tabah, bekerja keras, memiliki cinta kasih tanpa diskriminasi, rendah hati, bijaksana, dan adil.
3. Hakikat Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan pada umumnya yang mempengaruhi potensi peserta didik dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotor melalui aktivitas jasmani. Melalui aktivitas jasmani anak akan memperoleh berbagai macam pengalaman yang berharga untuk kehidupan seperti kecerdasan, emosi, perhatian, kerjasama, keterampilan, dsb. Pengertian pendidikan jasmani telah banyak diterangkan oleh para ahli pendidikan jasmani diantaranya adalah :
Williams menyatakan bahwa pendidikan jasmani adalah semua aktivitas manusia yang dipilih jenisnya dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dcapai. Singer memberi batasan mengenai pendidikan jasmani sebagai pendidikan melalui jasmani berbentuk suatu program aktivitas jasmani yang medianya gerak tubuh dirancang untuk menghasilkan beragam pengalaman dan tujuan antara
lain belajar, sosial, intelektual, keindahan dan kesehatan. Bucher menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral dari seluruh proses pendididkan yang bertujuan mengembangkan fisik, mental, emosi, dan sosial, melalui aktivitas jasmani yang telah dipilih untuk mencapai hasilnya. Frost menyatakan bawa pendidikn jasmani terdiri dari perubahan dan penyesuaian yang terjadi pada individu bila ia bergerak dan mempelajari gerak. SK Mendikbud nomor 413/U/1987 menyebutkan bahwa pendidikan jasmani adalah bagian yang integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuscular, intelektual, dan emosional.   Rusli Lutan menyatakan bahwa pendidikan jasmani dapat diartikan sebagai proses sosialisasi melalui aktivitas jasmani, bermain, dan atau olahraga untuk mencapai tujuan pendidikan. Melalui aktivitas jasmani ini peserta didik memperoleh beragam pengalaman kehidupan yang nyata sehingga benar- benar membawa anak kearah sikap dan tindakan yang baik.

4. Tujuan Pendidikan Jasmani
Berdasarkan pemahaman mengenai hakikat pendidikan jasmani maka tujuan pendidikan jasmani sama dengan tujuan pendidikan pada umumnya, karena pendidikan jasmani merupakan bagian yang integral dari pendidikan pada umumnya melalui aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani yang meliputi berbagai aktivitas jasmani dan olahraga hanya sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan pendididkan pada umumnya. Secara rinci tujuan pendidikan terdapat dalam UU No. 20 Th. 2003 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung  jawab.


5. Hakikat Bermain
Batasan mengenai bermain sangat luas dan sulit untuk menemukan pengertian bermain secara nyata dan tepat dalam arti satu batasan dapat mencakup seluruh pengertian bermain. Sehingga perlu melihat beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai batasan bermain walaupun belum satu bahasa tetapi dapat sebagai acuan untuk memberi pengertian bermain dalam pendidikan jasmani pada khususnya. Adapun pendapat para ahli mengenai pengertian bermain adalah sebagai berikut: James Sully dalam Tedjasaputra (2001) menyatakan bahwa tertawa adalah tanda dari kegiatan bermain dan tertawa ada di dalam aktivitas sosial yang dilakukan bersama sekelompok teman, yang penting dan perlu ada di dalam kegiatan bermain adalah rasa senang yang ditandai oleh tertawa. Soemitro (1991) menyatakan bahwa bermain adalah belajar menyesuikan diri dengan keadaan. Sehingga Sukintaka (1998) menyatakan bermain adalah aktivitas jasmani yang dilakukan dengan sukarela dan bersungguh-sungguh untuk memperoleh rasa senang dari melakukan aktivitas tersebut.Hurlock (1978:320) menyatakan bahwa bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. Sedang Piaget dalam Hurlock (1978) menjelaskan bahwa bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional. Sedangkan, Drijarkara dalam Sukintaka (1998) menyatakan bahwa bermain adalah gejala manusia yang merupakan aktivitas dinamika manusia yang dibudayakan. Selanjutnya Drijarkara menyatakan bahwa dalam bermain bukan hanya merupakan aktivitas jasmani saja tetapi   juga menyangkut fantasi, logika, dan bahasa. Sehingga dalam bermain dibutuhkan keterpaduan antara fisik dalam hal ini aktivitas jasmani dan psikis yaitu logika, persepsi, asumsi, emosi, keberanian, kecerdasan dan lain-lain. Menurut Drijarkara dalam bermain harus ada dua watak yaitu eros dan agon. Eros dalam arti bahwa bermain hendaknya didasari rasa senang/cinta terhadap komponen yang ada dalam bermain itu sendiri seperti teman bermain, sarana dan prasarana bermain, waktu bermain, situasi bermain dan sebagainya. Sedang agon berarti perjuangan untuk mengalahkan segala tantangan/kesulitan/hambatan atau permasalahan dalam bermain.

6. Fungsi Bermain Dalam Pendidikan Jasmani
Bermain mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yang dapat dilihat dari aspek psikis, fisik, dan sosial. Beberapa komponen aspek psikis akan berkembang melalui bermain antara lain dalam hal kecerdasan, motivasi, emosi, mental, percaya diri, minat , kemauan, kecemasan, agresivitas, perhatian, konsentrasi, dan sebagainya. Misalkan faktor kecerdasan berkembang melalui bermain disebabkan bahwa melalui bermain anak akan menghadapi berbagai masalah yang timbul dalam permainan tersebut dan harus diselesaikan/ diputuskan pada saat itu juga dengan cepat dan tepat, atau faktor motivasi melalui bermain anak akan menampilkan apa saja yang mereka punyai dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat karena dalam bermain itu suasananya menggembirakan dan menyenangkan sehingga bebas beraktivitas dengan penuh semangat sesuai dengan kemampuannya. Melalui bermain anak akan akan terbiasa dengan tekanan-tekanan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar sehingga akan mampu mengelola emosi, kecemasan dan rasa percaya diri dengan baik. Melalui bermain anak akan mampu mengembangkan, mempertahankan, dan mengendalikan aspek-aspek psikis tersebut.
Aspek sosial pun juga akan berkembang dengan baik melalui aktivitas bermain ini antara dalam hal kerja sama, komunikasi, saling percaya, menghormati, bermasyrakat, tenggang rasa, kebersamaan dan sebagainya. Melaui bermain anak mampu memciptakan suatu bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dalam kerjasama dipastikan ada komunikasi antar anggota regu, dan dalam kerjasama juga ada rasa saling percaya dan saling menghormati antar anggota untuk meraih tujuan bersama yang diinginkan. Hal tersebut   sependapat dengan Cowel dan Hazelton dalam Sukintaka (1998:9) yang menyatakan bahwa melalui bermain akan terjadi perubahan yang positif dalam hal jasmani,sosial, mental, dan moral. Perubahan yang positif dalam hal jasmani meliputi pertumbuhan dan perkembangan jasmani yaitu terjadinya arah pertumbuhan dan perkembangan jasmani yang baik/proposional, kebugaran jasmani yaitu terjadinya kemampuan anak dalam hal meningkatkan dan mempertahankan kebugaran jasmaninya, sehat jasmani dalam arti melalui bermain anak beraktivitas jasmani yang merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan hidup anak yaitu gerak yang berakibat sehat secara fisik bagi anak, selanjutnya melalui bermain juga memberikan perubahan secara fisik dalam hal peningkatan kemampuan unsur-unsur fisik seperti kecepatan, kekuatan, daya ledak, kelentukan, keseimbangan, kelincahan, daya tahan, ketepatan dan koordinasi. Selanjutnya melalui bermain juga membawa perubahan positif dalam hal fisik terutama kemampuan gerak dasar anak yang meliputi gerak lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif.
Perubahan positif dalam ranah sosial melalui aktivitas bermain yaitu terjadinya kesadaran akan bekerjasama, rasa saling mempercayai, saling menghormati, saling tenggang rasa, rasa solider, saling menolong antar anggota untuk berusaha bersama mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Perubahan secara positif pada faktor moral yaitu bahwa melalui aktivitas bermain anak-anak dituntut untuk selalu bertindak jujur, disiplin, adil, tidak curang, tanggung jawab, fair play, menghargai teman atau lawan main, yang semuanya mengarah kepada perbuatan atau tingkah laku yang baik, sehingga dengan kebiasaan semacam itu dapat diduga anak- anak akan mengalami perubahan tingkah laku yang mengarah kepada perbuatan yang baik berarti anak mengalami perubahan moral secara positif. Selanjutnya Hurlock (1978:323) menyatakan mengenai pengaruh bermain lam dunia anak bahwa bermain mempunyai pengaruh dalam perkembangan anak, pengaruh tersebut antara lain:   dorongan berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam,  sumber belajar, perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standard moral.

7. Fungsi Bermain Dalam Pendidikan

Sudah sejak lama bahwa bermain itu mempunyai fungsi yang penting dalam dunia pendidikan secara umum. Bermain mampu membawa anak kearah perkembangan kepribadian yang layak. karena bermain mampu mempengaruhi potensi yang dimiliki siswa secara positif. Hal ini sejalan dengan Colloza (Sukintaka,1998:6) menyatakan bahwa bermain betul-betul bagian dari pendidikan. Sedang Frobel dalam Sukintaka (1998) menyatakan bahwa bermain itu merupakan organ kehidupan/unsur kehidupan dan selalu berperanan sebagai wahana pendidikan. Bermain merupakan unsure kehidupan berarti setiap ada kehidupan ada kegiatan bermain yang selalu menyertainya. Melalui bermain anak akan menemukan kepribadiannya. Frobel menekankan pada permainan imaginatif, apapun bendanya boleh digunakan sebagai alat permainan apa saja menurut imajinasi anak. Dalam hal ini anak benar-benar bebas berimajinasi sehingga mampu mengembangkan potensi dirinya. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan bahwa bermain dikatakan sebagai saran pendidikan dalam arti pengembangan diri ke arah perilaku yang positif. Sehubungan pendapat Frobel bahwa bermain bebas berimaginasi, lain halnya dengan Montessori menyatkan bahwa bermain sebagai sarana untuk mempelajari fungsi, dalam hal ini bermain harus mendorong anak untuk mempelajri sesuatu sesuai dengan fungsinya. Sebagai contoh anak bermain dengan kursi maka hendak anak mampu memahami dan mengerti serta menerapkan fungsi kursi tersebut. Tidak boleh kursi dimainkan sebagai becak atau mobil mogok. Sedang Huizinga berpendapat bahwa bermain itu mempunyai makna pendidikan praktis (Sukintaka,1998:7).

8. Hubungan Antara Bermain dan Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani merupakan pendidikan melalui aktivitas jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan secara menyeluruh dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aktivitas jasmani merupakan gerak manusia yang dipilih oleh para pakar pendidikan jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Aktivitas jasmani dapat berbentuk olahraga atau non olahraga. Bermain juga merupakan salah satu aktivitas jasmani yang dapat digunakan sebagai sarana pendidikan jasmani, oleh karena itu tidak berlebihan bahwa bermain merupakan bagian dari pendidikan jasmani. Dari sudut pandang ruang lingkupnya maka pendidikan jasmani lebih luas dari pada bermain. Melalui bermain anak melakukan berbagai aktivitas jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani, anak akan mengalami berbagai pengalaman langsung dalam bermain dan membantu peningkatan berbagai aspek pendidikan seperti kecerdasan, kreativitas, sikap positif, keterampilan, sportivitas, kejujuran, kegisiplinan dan masih banyak lagi yang diperolehnya melalui bermain. Dilihat dari tugas dan fungsinya antara pendidikan jasmani dan bermain, keduanya memiliki tugas dan fungsi yang sama yaitu sama-sama meningkatkan kualitas hidup manusia. Kualitas hidup ditandai dengan kepribadian baik yang dimiliki oleh anak-anak. Menurut Sukintaka (1998:28) menyatakan bahwa kualitas manusia dapat dikelompokan ke dalam empat aspek pribadi manusis yaitu: makluk Tuhan, makluk social,   psikis, dan   jasmani. Keempat aspek kepribadian ini akan berkembang dengan baik melalui bermain atau pendidikan jasmani.
Secara umum manusia mempunyai sifat azasi sebagai makluk individu sekaligus sosial. Kedua sifat ini dapat dibedakan dalam sikap dan perilakunya namun tidak dapat dipisahkan dalam diri pribadi manusia, Kehidupan bermasyarakat dibangun melalui perilaku sosial yang dinyatakan dalam bentuk kerjasama, menghargai, mempercayai, menghormati, membantu antar individu yang satu dengan  individu lain. Hasil pembelajaran salah satunnya  adalah aspek sosial yaitu terwujudnya manusia yang mampu bekerjasama dengan orang lain, bersikap positif, menghargai dan mempercayai, serta saling membantu orang lain dalam kehidupan sehari- hari. Adanya rasa saling (saling dalam arti positif seperti saling membantu, saling menghargai, saling menghormati, saling mempercayai, saling membutuhkan, saling berkomunikasi dan lain sebagainya) inilah yang mengantarkan manusia mampu hidup aman , tenteram, dan damai. Kemampuan   sosial anak mengalami perkembangan dalam kehidupan atau sering disebut proses sosialisasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Baldwin dalam Sukintaka (1998:32) yang menyatakan bahwa perkembangan sosial dalam diri anak merupakan proses sosialisasi dalam bentuk imitasi atau meniru, yang berlangsung melalui adaptasi dan seleksi (penyesuaian dan pemilihan).  Sedang Hurlock (1978:250) menyatakan bahwa proses sosialisasi dalam perkembangan sosial anak melalui belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan perkembangan sikap sosial Aspek psikis manusia tidak dapat tampak secara nyata seperti pada aspek fisik, tetapi dapat dilihat dari gejala yang tampak dalam fisiknya.

9. Hasil Penelitian
            Penerapan penguatan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di kelas 5 SD Negeri 82 Rejang Lebong adalah melalui aktivitas bermain para atli – atlit Nasional dengan nilai – nilai Sportivitas  yang tinggi yang dapat di jadikan sebagai teladan bagi para peserta didik.
            Pembelajaran pertama kali dilakukan di kelas 5 SD Negeri 82 Rejang Lebong. Ketika materi masuk dengan tujuan pembelajaran peserta didik bisa Melakukan aktivitas bermain dengan sportif, peserta didik mendapatkan penjelasan tentang bermain yang sportif, serta nilai – nilai karakter yang baik.
            Dengan menggunakan metode saintifik, usai peserta didik dikumpulkan bersama kelompoknya, pendidik memberikan video aktivitas bermain bagi atlit yang sportivitas tinggi serta nilai karakter yang baik yang bisa menjadi inspirasi bagi para peserta didik.
            Awalnya peserta didik sebagian besar tidak mengenal nilai – nilai sportivitas, kejujuran, disiplin, tanggung jawab yang dimiliki para atlit dalam bermain. Selanjutnya, tanya jawab mengenai keistimewaan para atlit – atlit serta hal – hal apa atau pelajaran apa yang bisa mereka tiru dan di terapkan dalam keseharian mereka. Jawaban yang di berikan peserta didik antara lain, dari atlit – atlit yang dia sudah kenal mereka mendapatkan pelajaran agar selalu menjadi anak yang jujur menjunjung tinggi sportivitas, menghargai lawan serta tanggung jawab apapun hasil yang di peroleh, Lalu dari atlit – atlit, mereka belajar mengenai kesabaran, kepatuhan, kejujuran, tanggung jawab sportivitas dalam bermain baik menang atau pun kalah dalam bermain.
            Setelah masing – masing kelompok mengetahui hal – hal apa yang bisa mereka teladani, pendidik pun memberikan tugas untuk bermain dalam aktivitas jasmani. Didalam aktivitas bermain yang dilakukan siswa, harus berprilaku dengan menjunjung tinggi nilai – nilai sportivitas. Dari hasil aktivitas bermain dalam pendidikan jasmani yang dilakukan, semua peserta didik bisa dapat menamkan sikap serta nilai – nilai karakter yang dimiliki para atlit.
            Sementara itu, hasil evaluasi aktivitas bermain dalam pendidikan jasmani yang di lakukan siswa, secara keseluruhan sudah memenuhi nilai – nilai karakter yang baik. Ada unsur menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, disiplin dan tanggung jawab. Namun, harus diakui bahwa masih ada salah satu siswa masih kurang dalam kejujurannya, meskipun demikian, secara klasikal pembelajaran pendidikan jasmani melalui aktivitas bermain bisa dikatakan berhasil karena dari hasil belajar, hanya satu kelompok nilainya di bawah KKM, Sehunggah 83% nilai siswa mencapai KKM.
            Pada pertemuan selanjutnya, aktivitas bermain dalam pendidikan jasmani ini tidak hanyat dilakukan perkelompok. Masing masing peserta didik di berikan tugas aktivitas bermain berdasarkan kisah para atlit yang mereka dapatkan.
            Hasil pembelajaran, jika dibandingkan aktivitas bermain dalam pendidikan jasmani, total siswa lebih mudah menanamkan sikap karakter yang baik dalam melakukan aktivitas bermain pada pendidikan jasmani. Terlihat dari hasil belajar, dari 32 siswa di kelas 5, sebanyak 27 siswa atau 84% mampu menanamkan sikap karakter yang baik dalam aktivitas bermain pada pendidikan jasmani dengan mencapai KKM, sedangkan hanya 5 siswa atau 16% masih harus memperbaiki nilai nilai karakter nya.
            Dari hasil belajar ini, terhadap siswa yang belum tuntas diberikan tugas kembali yang harus mereka lakukan hingga bisa mencapai KKM.
           
SIMPULAN

Bemain merupakan aktivitas jasmani yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sukarela serta menyenangkan yang sering dilakukan oleh sebagian besar anak. Dalam pembelajaran pendidikan jasmani melalui aktivitas bermain mampu membawa peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan atau potensi yang dimilikinya ke arah positip dalam arti potensi peserta didik dalam segi kognitif, afektif, fisik, dan psikomotorik berkembang dengan baik, hal ini berarti melalui bermain dalam pendidikan jasmani dapat membentuk pribadi yang berkarakter baik.
DAFTAR PUSTAKA


Arma Abdullah dan Agus Manadji. 1994. Dasar- Dasar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdikbud.
Darmiyati Zuchdi. (Ed.). 2011. Pendidikan Karakter Dalam     Perspektif Teori dan Praktik .
                        Yogyakarta: UNY Press
Hurlock,  Elizabeth H. 1978. Perkembangan AnakJilid 1. Terjemahan. Jakarta: Erlangga

Matakupan. 1993 . Teori Bermain .  Jakarta: Depdikbud
Montolalu, dkk. 2007. Bermain dan Permainan Anak.Jakarta: Universitas Terbuka

Mayke S. Tedjasaputra. 2001. Bermain,Mainan,dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini.Jakarta: Gramedia
Mitchell, Stephen A. dkk. 2005. Teaching Sport Concepts an Skills A Tactical Games Approach.
USA; Human Kinetics
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama

Oemar Hamalik. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Rusli Lutan. 2001. Pembaharuan Pendidikan Jasmani di Indonesia. Jakarta: Depdiknas

Siedentop, Daryl dkk. 2004. Complete Guide to Sport Education. Ohio: Human Kinetics

Soemitro. 1991. Permainan Kecil.  Jakarta: Depdikbud
Sukintaka. 1998. Teori Bermain untuk Pendidkan Jasmani. Yogyakarta: FPOK IKIP

Yoyo Bahagia dan Adang Suherman. 2000. Prinsip- Prinsip Pengembangan dan Modifikasi Cabang Olahraga.
 Jakarta: Depdiknas
Peraturan Presiden ( Perpres ) Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter.


PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI AKTIVITAS BERMAIN DALAM PENDIDIKAN JASMANI (Best Practice)


Penulis : 
Rudi Hardi, S.Pd
Guru PJOK SD 82 Rejang Lebong
Kecamatan Padang Ulak Tanding

Post a Comment