PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN STRATEGI “PENTAS” (PENEMUAN TAK TERBATAS) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN HASIL BELAJAR PJOK DI DAERAH 3T (Best Practice)


PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN STRATEGI “PENTAS” (PENEMUAN TAK TERBATAS) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN HASIL BELAJAR PJOK  DI DAERAH 3T

Ali Zaenal
SD Inpres Rata Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur

Abstrak

Permasalahan dalam proses pembelajaran PJOK di sekolah daerah 3T yang mana masih kurangnya keterlibatan peserta didik secara aktif untuk mengikuti pembelajaran, sehingga hasil belajar yang mereka peroleh kurang maksimal. Hal ini disebabkan oleh penerapan strategi yang kurang tepat. Best Practice ini bertujuan mendeskripsikan pembelajaran PJOK diantaranya : 1) mendeskripsikan proses pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) dalam upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) peserta didik di daerah 3T ; 2)            mendeskripsikan hasil belajar PJOK  peserta didik di daerah 3T melalui penerapan pembelajaran menggunakan strategi “pentas”. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah : (1) metode observasi, (2) metode tes, ( 3) metode dokumentasi (4) metode wawancara. Pelaksanaan tindakan meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil dan simpulan menunjukan : 1) Proses pelaksanaan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) pada mata pelajaran PJOK di daerah 3T dapat terlaksana dengan baik. 2) pelaksanaan pembelajaran menggunakan strategi “Pentas” dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PJOK di daerah 3T, dibuktikan dengan peningkatan perolehan nilai hasil belajar yaitu nilai tertinggi 90, nilai terendah 70, rata-rata hasil belajar 80,4.

Kata Kunci : pembelajaran PJOK; strategi; pentas; hasil belajar; daerah 3T

A.      Pendahuluan
Mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan salah satu mata pelajaran yang paling banyak digemari oleh para peserta didik di era millennial ini. Aktivitas jasmani  dan olahraga senantiasa mewarnai kehidupan keseharian kita baik dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sudah menjadi hal yang biasa bilamana brand olahraga ini akan senantiasa menjadi trending topic pada kehidupan keseharian kita.
Seorang guru PJOK harus bisa mengaplikasikan pradigma “bergerak untuk belajar” kepada anak didiknya. Hal ini sejalan dengan Sagala (2010:61) bahwa pembelajaran adalah “membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”. Dengan demikian peserta didik diharapkan mulai perlahan dapat tertanam pada benak pikirannya  tentang bagaimana mengeksplorasi sebuah gerak yang dimaksudkan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu kaitannya dengan pembelajaran PJOK. Membuat para peserta didik untuk turut bergerak aktif kaitannya dalam pembelajaran PJOK tidaklah mudah, apalagi para peserta didik di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Dibutuhkan sebuah kreativitas dan inovasi yang mana dipadukan dengan sebuah strategi pembelajaran yang tepat.
SD Inpres Rata merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan alokasi penempatan Guru Garis Depan (GGD) pada Tahun 2017. Dengan demikian sekolah ini termasuk pada wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Dengan adanya GGD di sekolah tersebut diharapkan membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik serta mengejar sebuah kemajuan. Disamping itu, bagi GGD yang bertugas di sekolah tersebut merupakan sebuah perwujudan nyata tentang cinta tanah air dan bangsa sesuai pada butir-butir pengamalan sila ketiga yang mana para GGD tersebut telah bersiap sepenuhnya untuk ditugaskan di seluruh pelosok NKRI.
Sekolah penempatan GGD tersebut melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum pada umumnya. Kurikulum yang sedang dipakai yaitu KTSP 2006 dan kurikulum 2013. Adapun KTSP 2006 dilaksanakan di kelas 3 dan 6, sedangkan kurikulum 2013 dilaksanakan di kelas 1,2,4, dan 5. Seperti yang kita ketahui bersama pula bahwasannya dalam pelaksanaan kurikulum tersebut tentunya mengalami berbagai kendala baik dari segi media, sarana dan prasarana, model, hingga strategi pembelajaran. Namun demikian dengan segala keterbatasan yang ada, sekolah berupaya senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik di pedalman ini.
Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada peserta didik kelas IV, saat pembelajaran PJOK dijumpai peserta didik yang kurang terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran. Kurang terlibat yang dimaksudkan disini antara lain ; malas mengikuti kegiatan pemanasan sebelum kegiatan inti pembelajaran, susah untuk dikondisikan (hiperaktif), sering lupa membawa seragam olahraga yang menjadi alasan untuk tidak mengikuti pembelajaran, dan beberapa lagi peserta didik hanya aktif bilamana masuk pada materi tertentu saja. Hal demikian ini mengakibatkan hasil belajar para peserta didik kurang maksimal. Kenyataannya, dari data yang diperoleh dengan Kriteria Ketutasan Minimal (KKM) sebesar 75, ternyata hanya 58,3 % peserta didik yang memperoleh nilai memenuhi KKM tersebut. Sebanyak 41,7 % peserta didik belum memenuhi KKM. Nilai tertinggi 85, terendah 55, dan rata-rata nilai kelas adalah 74 (data nilai penilaian akhir semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019).
Namun demikian para peserta didik bila dilihat dari segi aktivitas fisik dalam keseharian bisa tergolong rajin. Contoh nyata yaitu dengan kondisi keterbatasan air yang ada pada sekolah, ketika pagi hari sebelum masuk kelas peserta didik diharuskan pergi menuju sungai untuk mengambil air untuk kemudian diisikan ke bak air di sekolah serta menyiram beberapa tanaman. Mereka menjalani kegiatan tersebut nampak dengan semangat, riang dan gembira. Dari sinilah maka timbul pemikiran yang sangat erat sekali kaitannya dengan mata pelajaran PJOK yang mana lebih dominan pada aktivitas fisik,  tentang bagaimana agar peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran PJOK dengan aktif serta semangat hingga memperoleh hasil belajarnya maksimal.
Terdapat banyak strategi yang bisa diterapkan khususnya oleh guru di dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk bagaimana bisa meningkatkan hasil belajar. Dengan strategi yang tepat maka materi pembelajaran dapat dipahami yang pada akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar. Peningkatan hasil belajar tentunya sejalan dengan bisa tercapainya peningkatan mutu pembelajaran yang sudah semestnya diupayakan dan dilaksanakan guru di sekolah (Yani, 2018:10)
Menyiasati permasalahan yang terjadi, penulis selaku Guru Garis Depan (GGD) yang mengampu mata pelajaran PJOK di sekolah tersebut mencari sebuah solusi untuk menjawab permasalahan yang ada. Sebuah solusi yang diberikan berdasarkan kondisi serta permasalahan tersebut yaitu dengan mencari sebuah strategi pembelajaran yang tepat.  Strategi pembelajaran yang coba digunakan oleh penulis yaitu strategi “pentas” (penemuan tak terbatas). Penggunaan strategi ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang terjadi sehingga peserta didik di sekolah tersebut berhasil memperoleh nilai yang maksimal.
Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) dilaksanakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) peserta didik di daerah 3T?           
2.      Dengan penerapan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas), bagaimana hasil belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) peserta didik di daerah 3T?  
Tujuan Penulisan
1.      Mendeskripsikan proses pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) dalam upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) peserta didik di daerah 3T.
2.      Mendeskripsikan hasil belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) peserta didik di daerah 3T melalui penerapan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas).
Manfaat Penulisan
1.      Bagi guru
Best Practice ini dapat digunakan sebagai salah satu pengalaman terbaik oleh penulis dalam pengabdiannya sebagai seorang Guru Garis Depan (GGD) di sekolah 3T dalam menerapkan sebuah strategi pembelajaran yang tepat yang kemudian memacu semangat guru dalam pembelajaran aktif dan kreatif guna meningkatkan hasil belajar peserta didik.
2.      Bagi peserta didik
Memotivasi peserta didik agar lebih bersemangat dan terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran sehingga membuat hasil belajarnya meningkat.
3.      Bagi Sekolah  
Best Practice ini memberikan pengalaman dan pengetahuan terkait cara memecahkan kendala-kendala yang terjadi dalam proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan (PJOK).       
B.       Metode dan Penyelesaian Masalah
Best Practice ini merupakan pengalaman sebuah tugas pengabdian pada negeri sebagai salah seorang GGD  di SD Inpres Rata. Hal yang akan ditingkatkan pada proses pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) adalah hasil belajar PJOK. Adapun sumber data terdiri dari kelas IV yang berjumlah 12 orang pada tahun pelajaran 2018/2019. Penulis menggunakan metode studi deskriptif kualitatif atas praktik baik (best practice). Praktik pengalaman baik ini dilaksanakan di SD Inpres Rata dimulai pada semester Genap tahun pelajaran 2018/2019.

Kerangka Berpikir
Dimulai dari sebuah permasalahan kelas yang terjadi pada saat pembelajaran PJOK, yang mana para peserta didik kurang terlibat secara aktif saat proses pembelajaran PJOK. Melihat kondisi demikian, guru melaksanakan observasi terkait dengan kaktifan para peserta didik saat proses pembelajaran beserta hasil belajarnya. Dari observasi yang dilaksanakan maka ditemukannya peserta didik ternyata didapati prosentase 58,3% saja yang memperoleh nilai tuntas atau diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sedangkan 41,7 % lainnya memperoleh nilai di bawah KKM.
Peningkatan hasil pembelajaran sangat erat sekali kaitannya dengan sebuah proses pembelajaran.  Proses pengajaran pada dasarnya terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan sebagai upaya mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu bagian dari upaya yang ditempuh yaitu mencari suatu alternatif strategi pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar mengajar di kelas.  Dengan menggunakan strategi pembelajaraan yang tepat maka akan memacu peserta didik untuk terlibat aktif dalam sebuah proses pembelajaran. Dari kondisi tersebut kemudian guru mencoba mencari sebuah solusi yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Penulis menemukan alternatif berupa sebuah strategi pembelajaran yaitu strategi “pentas” (penemuan tak terbatas).
Strategi pembelajaran tersebut kemudian di laksanakan di kelas IV pada saat memasuki materi permainan bola besar. Dari situlah respon baik yang diperoleh dari segi keterlibatan peserta didik dan menunjukan perubahan cukup signifikan. Guru senantiasa mendampingi dan memberikan solusi tatkala peserta didik menemui sebuah permasalahan atau kendala terkait materi yang sedang disampaikan. Untuk lebih lengkapnya lagi berikut adalah diagram alur kerangka berpikir Best Practice ini.
           
Metode Pelaksanaan
Metode yang dipergunakan dalam pengumpulan data antara lain (1) metode observasi, (2) metode tes,  (3) metode dokumentasi, dan (4) metode wawancara. Instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu observasi pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (Penemuan tak terbatas) dalam upaya meningkatkan hasil belajar PJOK dan tes untuk hasil belajar peserta didik.
Instrumen pertama adalah pedoman observasi yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen disusun untuk melihat langkah langkah pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan strategi Pentas dalam upaya meningkatkan hasil belajar PJOK. Pilihan jawaban yang diberikan berdasarkan hasil observasi dengan memilih "ya atau tidak" dan disertai dengan komentar. Dalam proses pembelajaran para observer menuliskan kegiatan peserta didik sesuai dengan apa yang mereka amati. Instrumen kedua adalah berupa pertanyaan lisan (wawancara) yang diberikan kepada peserta didik terkait dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Instrumen yang ketiga merupakan tes hasil belajar, skala nilai untuk setiap tes adalah 0 dan 100.
Tahapan pelaksanaan Best Practice pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) adaalah sebagai berikut:
a.       Perencanaan
Pada tahap ini dilakasanakn identifikasi masalah yang akan digunakan untuk pembelajaran menggunakan strategi “pentas” dan menyusun perangkat yang dibutuhkan.
b.      Pelaksanaan
Tahap ini guru melaksanakan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
c.       Observasi
Pada tahap ini guru melakukan observasi dengan cara mencatat kejadian-kejadian yang terjadi yaitu berupa hal-hal yang posistif atupun negatif pada saat pembelajaran.
d.      Refleksi
Refleksi sebagai tahapan unutk menganalisa terkait rangkaian pembelajaran yang telah dilaksanakan beserta tindak lanjut bila diperlukan.
C.      Hasil dan Pembahasan
Pembelajaran PJOK yang dilakasanakan di daerah 3T khususnya di SD Inpres Rata pada awalnya berjalan kurang maksimal khususnya pada saat memasuki materi-materi tertentu. Ada kecenderungan yang dominan pada peserta didik untuk lebih menyukai beberapa materi saja. Dengan kata lain, ketika memasuki materi yang mereka kurang menyenangkan bagi mereka maka sudah dipastikan mereka akan kurang antusisas untuk mengikuti proses kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tersebut diwujudkan dalam penggunaan strategi, pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Di antara istilah-istilah dalam bidang pembelajaran tersebut, strategi pembelajaran merupakan hal penting dan mendasar yang harus di pahami dan dijalankan oleh guru (Awang,I.S , 2017:10). Strategi pembelajaran yang dilakukan merupakan strategi yang dipandang paling tepat untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran dan mampu menciptakan proses belajar yang menyenangkan (Yani : 2018). Dengan menggunakan strategi pembelajaraan yang tepat maka akan memacu peserta didik untuk terlibat aktif dalam sebuah proses pembelajaran. Dari sinilah kemudian guru mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang lebih menantang yaitu pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas).
Strategi “pentas” ini sejalan dengan metode discovery menurut Haidir dan Salim (2012:122) yang mana mengemukakan bahwa “Discovery adalah suatu metode oleh orang yang berfikir disintesiskan untuk menerima sesuatu yang seseorang tidak mengetahui sebelumnya”. Selain itu, Wikipedia Indonesia juga mengartikan bahwa reka cipta atau penemuan (Inggris: invention) adalah suatu bentuk, komposisi materi, peranti, atau proses yang baru. Sebagian penemuan didasarkan pada bentuk-bentuk, komposisi, proses, atau gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya. Yang lainnya adalah terobosan-terobosan radikal yang mungkin memperluas bagas-batas pengetahuan atau pengalaman manusia. Penemuan dapat pula berupa reka baru (innovation), dan dengan demikian menjadi suatu terobosan besar. Penemuan seperti ini mungkin memiliki dampak kecil atau sangat besar, atau di antara kedua ekstrem tersebut (Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas).
Strategi pembelajaran “pentas” (penemuan tak terbatas) adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas dengan mengedepankan inovasi baru menuju sebuah terobosan besar. Dengan demikian model pembelajaran ini cenderung mengarah ke hal baru atau suatu kondisi dan keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Strategi “Pentas” (Penemuan Tak Terbatas)
Pada pelaksanaan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1.      Perencanaan
a.       Menentukan masalah-masalah yang terdapat dalam kelas
b.      Menentukan pendekatan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” yang sesuai untuk menyelesaikan masalah.
c.       Membuat perangkat pembelajaran, bahan ajar, dan lembar observasi.
2.      Pelaksanaan
Beberapa alternatif pelaksanaan strategi “pentas” yang bisa diterapkan dalam materi pembelajaran antara lain sebagai berikut :
a.      Penerapan Strategi Pembelajaran “Pentas” (Penemuan Tak Terbatas) Pada Materi Permainan Bola Besar
Permainan bola besar disini cakupannya cukup luas. Namun penulis akan mengambil salah satu substansi yang sesuai yaitu permainan sepakbola. Strategi pembelajaran “pentas” ini bisa diterapkan pada saat mengajarkan materi kepada peserta didik tentang bagaimana cara menendang, mengumpan, serta melakukan shooting ke gawang. Guru akan memberikan instruksi kepada peserta didik tentang bagaimana caranya agar bola ini bisa sampai di target yang akan dituju. Bilamana akan mengumpan maka bola akan ditargetkan kepada temannya, sedangkan bila ingin melakukan shooting, tujuannya adalah memasukan bola ke gawang lawan.
Penulis disini menemukan sebuah keadaan yang memuaskan yang mana para peserta didik baik putra dan putri hampir secara keseluruhan sangat antusias mengikuti instruksi guru pada saat pembelajaran tersebut. Beberapa peserta didik justru terlihat sangat menikmati dengan beberapa penemuan-penemuan baru mereka di lapangan. Penemuan yang cukup unik oleh peserta didik yang disampaikan kepada guru yaitu didapati peserta didik yang berhasil menemukan sebuah cara untuk mencetak gol ke gawang lawan dengan tumit.
b.      Penerapan Strategi Pembelajaran “Pentas” (Penemuan Tak Terbatas) Pada Materi Permainan Bola Kecil
            Penerapan model penemuan tak terbatas yang bisa dilakukan yaitu pada saat peserta didik akan bermain kasti. Disinilah para peserta didik berdiskusi dengan guru kaitannya beberapa aturan main yang akan dilaksanakan seperti kesempatan memukul bola, cara memukul bola, jumlah maksimal dalam sebuah pin, dan lain sebagainya. Disinilah minat para peserta didik terlihat lebih bersemangat dengan ditandainya peningkatan peserta didik yang aktif ikut dalam permainan.
c.       Penerapan Strategi Pembelajaran “Pentas” (Penemuan Tak Terbatas) Pada Materi Atletik
            Atletik ini merupakan induk dari semua cabang olahraga. Akan sangat disayangkan sekali bilamana ada peserta didik yang kurang menyukai materi ini. Bentuk strategi yang bisa diterapkan dalam materi ini adalah dengan menggunakan metode permainan. Permainan tersebut berupa lari haling rintang dengan memberikan kesempatan para peserta didik untuk melewati rintangan tersebut sesuai dengan gayanya masing-masing. Rintangan yang disiapkan yaitu berupa lintasan zigzag, gawang, serta matras sebagai media untuk melakukan guling ke depan atau belakang.
d.      Penerapan Strategi Pembelajaran “Pentas” (Penemuan Tak Terbatas) Pada Materi Aktivitas Kebugaran
 Materi aktivitas kebugaran merupakan materi yang bisa dinlai cukup melelahkan bagi para peserta didik. Maka dari itu pada saat materi ini akan dijumpai pula beberapa peserta didik yang kurang bersemangat. Strategi pembelajaran ini bisa diterapakan secara nyata ketika peserta didik belajar tentang latihan kekuatan. Pada studi lapangan di SDI Rata guru memberikan media berupa jeriken yang mana merupakan alat keseharian mereka untuk menimba air dari sungai. Dari media tersebut kemudian terciptalah pemahan konsep yang baik untuk melakukan praktik latihan kekuatan setelah peserta didik menemukan caranya untuk meningkatkan kekuatan.

e.       Penerapan Strategi Pembelajaran “Pentas” (Penemuan Tak Terbatas) Pada Materi Senam
 Senam pada jenjang sekolah dasar terdiri atas senam lantai dan senam irama (ritmik). Dalam model penemuan tak terbatas ini akan sangat cocok di materi senam irama yang mana para peserta didik bisa berekplorasi lebih sesuai gayanya untuk mendalami sebuah teknik dasar gerak langkah maupun gerakan tangan untuk diimplementasikan ke dalam sebuah rangkaian gerak pada senam irama.
3.      Observasi
Observasi dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung sebagai bahan untuk refleksi terkait dengan pelaksanaan strategi pembelajaran. Selama observasi guru mencatat kejadian-kejadian yang positif dan negatif untuk dipersiapkan sebagai bahan pertimbangan analisa proses pembelajaran.
4.      Refleksi
Pembelajaran yang telah dilaksanakan maka dilakukan sebuah refleksi untuk memberikan sebuah tindak lanjut (bila perlu) terhadap strategi yang telah diterapkan pada pembelajaran-pembelajaran berikutnya.
Hasil Belajar Peserta Didik
Data hasil belajar peserta didik sebelum melaksanakan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) diperoleh data yaitu sebanyak 58,3% peserta didik telah mendapatkan nilai diatas KKM, sedangkan sisanya belum memenuhi KKM. Dengan demikian sebelum melaksanakan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” nilai hasil balajar peserta didik masih kurang bila dilihat dari segi KKM. Oleh karenya kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) maka diperoleh nilai seperti pada tabel berikut :
Tabel 1 : Hasil belajar peserta didik kelas IV
Nilai
Kelas IV
Nilai tertinggi
90
Nilai terendah
70
KKM
75
Rata-rata hasil belajar
80,4

Strategi pembelajaran “pentas” ini memberikan sebuah atmasofir baru khusunya pada pembelajaran PJOK. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel nilai hasil belajar peserta didik yang mana menunjukan peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan setelah diberikan sebuah strategi pembelajaran “pentas”. Prosentase peserta didik yang memperoleh nilai diatas KKM meningkat menjadi 83,3%. Kemudian 16,7 % peserta didik belum memenuhi KKM. Nilai tertinggi naik menjadi 90, terendah 55, dan rata-rata nilai kelas adalah 80,4 (data nilai penilaian akhir semester genap tahun pelajaran 2018/2019).
Strategi Pembelajaran “pentas” dalam pembelajaran PJOK jenjang sekolah dasar di daerah 3T ini merupakan sebuah alternatif penyelesaian terkait masalah dalam strategi pembelajaran. Strategi ini terbukti telah memberikan dampak yang signifikan terhadap keaktifan, serta hasil belajar peserta didik khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Hal tersebut sangat sejalan dengan sebuah pernyataan bahwa kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa utuk aktif dalam pembelajaran akan berdampak baik pada hasil belajarnya (Susanti, 2018:34)
D.      Simpulan dan Saran
1.      Simpulan
a.       Proses pelaksanaan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) pada mata pelajaran PJOK di daerah 3T dapat terlaksana dengan baik karena adanya kesungguhan seorang guru dalam melaksanakan sebuah inovasi pembelajaran  dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik.          
b.      Pelaksanaan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PJOK di daerah 3T, dibuktikan dengan perolehan nilai hasil belajar yang meningkat yaitu nilai tertinggi 90, nilai terendah 70, rata-rata hasil belajar 80,4.
2.      Saran
a.       Dalam pelaksanaan pembelajaran PJOK hendaknya menerapkan pembelajaran menggunakan strategi “pentas” (penemuan tak terbatas) yang memacu peserta didik untuk terlibat aktif pada proses pembelajaran hingga meningkatkan hasil belajar.
b.      Hasil Best practice ini hendaknya dijadikan sebuah refleksi bagi guru PJOK dalam menggali inovasi dalam pembelajaran.
c.       Kelompok Kerja Guru (KKG) mata pelajaran PJOK hendaknya lebih intensif kaitannya sebagai wadah resmi para guru PJOK dalam  bertukar pengalaman serta mengembangkan inovasi pembelajaran.


Daftar Pustaka
Awang, I.S., (2017). Strategi Pembelajaran, Tinjauan Umum Bagi Pendidik. Sintang : STKIP Persada Khatulistiwa.
Haidir & Salim. (2012). Strategi Pembelajaran (Suatu Pendekatan Bagaimana Meningkatkan Kegiatan Belajar Siswa Secara Transformatif). Medan : Perdana Publishing.
Sagala, S. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Susanti, Afriyani. 2018. Kolaborasi Media Tube Lakos Dalam Permainan Scrabble Untuk Peningkatan Perbendaharaan Kosakata. Prosiding Seminar Guru Dikdas Berprestasi, Membangun Keteladanan Guru Pendidikan Dasar Untuk Meningkatkan Keterampilan Abad 21, Jakarta :1 s.d 4 Oktober 2018. 34.
Wikipedia.org. Reka cipta atau penemuan. https://id.wikipedia.org/wiki/Reka_cipta, diunduh di Nagekeo, 3 September 2019.
Yani. 2018. Pembelajaran Menggunakan Strategi (Paham, Ingat, Nyata, Telaah, Aplikasi, Refleksi) Sebagai Alternatif Peningkatan Hasil Belajar. Prosiding Seminar Guru Dikdas Berprestasi, Membangun Keteladanan Guru Pendidikan Dasar Untuk Meningkatkan Keterampilan Abad 21, Jakarta :1 s.d 4 Oktober 2018. 12.

PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN STRATEGI “PENTAS” (PENEMUAN TAK TERBATAS) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN HASIL BELAJAR PJOK  DI DAERAH 3T (Best Practice)

Penulis :
Ali Zaenal, S.Pd.,Gr
Guru PJOK di SD Inpres Rata
Kec. Aesesa, kab. Nagekeo, NTT

0 Response to "PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN STRATEGI “PENTAS” (PENEMUAN TAK TERBATAS) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN HASIL BELAJAR PJOK DI DAERAH 3T (Best Practice)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel